Bahasa Banjar - Bahasa Pemersatu di Kalimantan Selatan
Bahasa Banjar adalah sebuah bahasa Austronesia yang dipertuturkan di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia.
Bahasa Banjar berwujud dalam 3 Komunitas besar yaitu Bahasa Banjar Kuala, Bahasa Banjar Pahuluan dan Bahasa Melayu yang terangkum dalam berbagai dialek. Tanjung, Kelua, Amuntai, Barabai, Kandangan, Banjarmasin, Barito Kuala.
Sebahagian besar perkataan dalam Bahasa Banjar adalah sama dengan Bahasa Melayu, begitu juga dengan awalan seperti di, ber, ter, men, meng, dan akhiran seperti kan, an dan sebagainya. Perbedaan yang nyata hanyalah dari segi sebutan. Bahasa Banjar menggunakan a bagi menggantikan e (pepet) seperti kalihatan (kelihatan), handak (hendak) dsb. Jika hujung ayat, bunyi a dan u menjadi a’ dan u’ iaitu dengan bunyi k yang lembut. Bahasa Banjar juga menggunakan awalan ‘ber‘ , ‘ter‘ , ‘me, men, meng‘ yang ditukar menjadi ‘ba‘, ‘ta‘, ‘ma‘ seperti ‘bersedih’ disebut ‘basadih‘, ‘memberi‘ disebut ‘mambari‘ , sementara akhiran ‘kan’ kadangkala disebut ‘akan‘ contohnya ‘mendengarkan’ jadi ‘mandangarakan‘.
Kalau kita perhatikan pembicara-pembicara Bahasa Banjar, maka dengan mudah kita mengedintifikasi adanya variasi-variasi dalam pengucapan ataupun perbedaan-perbedaan kosa kata satu kelompok dengan kelompok suku banjar lainnya, dan perbedaan itu disebut sebagai dialek dari Bahasa Banjar yang bisa dibedakan antara dua dialek besar yaitu : (1) dialek Bahasa Banjar Kuala (2) dialek Bahasa Banjar Hulu Sungai. Dialek Banjar Kuala umumnya dipakai oleh penduduk “asli” sekitar kota Banjarmasin, Martapura, dan Pelaihari, sedangkan dialek Banjar Hulu Sungai adalah Bahasa Banjar yang dipakai oleh penduduk di daerah Hulu sungai umumnya yaitu daerah-daerah kabupaten Tapin, Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Utara serta Tabalong. Pemakai Bahasa Hulu Sungai ini jauh lebih luas dan masih menunjukan beberapa variasi sub dialek lagi yang oleh Den Hamer disebut dengan istilah dialek lokal yaitu seperti Amuntai, Alabio, Kalua, Kandangan, Tanjung, bahkan Den Hamer cenderung berpendapat bahwa bahasa yang dipakai oleh “orang bukit” yaitu penduduk pedalaman pegunungan Meratus merupakan salah satu sub dialeknya bisa dipetakan secara cermat dan tepat.
Sekarang kita dapat melihat kasus di Kalimantan Selatan, apa yang disebut Melayu adalah orang-orang Banjar. Bahasa Banjar sendiri dibagi menjadi dua varian, yakni Banjar Hulu dan Banjar Kuala.. Contoh Bahasa Banjar antara lain :
* arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
* hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
* tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
* bungas (Banjar Hulu), langkar (Banjar Kuala); artinya cantik
* tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
* balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
* lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
* tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
* ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
* macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
* balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
* tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
* tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
* padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
* kau’u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
* diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
* disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
* bat-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
* bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
* ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
* diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
* nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
* utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
* uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
* hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
* puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
* salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
* kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
* tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
* bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
* acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman
Bahasa menjadi ciri identitas suatu bangsa/suku bangsa. Melalui bahasa/dialek kita dapat mengetahui kelompok masyarakat, bahkan kita dapat pula mengetahui perilaku dan kepribadian masyarakat penuturnya (Sugono, 2005). Bahasa Banjar bahasa yang sangat luas digunakan mencakup Kalimantan Selatan, Tengah, Timur, komunitas (bubuhan) Banjar di Pulau Jawa, NTB, Sumatera, dan Malaysia. Namun tidak semua bahasa Banjar digunakan terutama di daerah permukiman transmigran yang terkenal seperti di kabupaten Barito Kuala, Banjar, Tapin, Tabalong, Tanah Laut, Tanah Bumbu.
Selain di Kalimantan Selatan, Bahasa Banjar yang semula sebagai bahasa suku bangsa juga menjadi bahasa lingua franca di daerah lainnya, yakni Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur serta di daerah kabupaten Indragiri Hilir, Riau, sebagai bahasa penghubung antar suku. Bahasa Banjar banyak dipengaruhi oleh bahasa Melayu, Jawa dan bahasa-bahasa Dayak.
Kosakata bahasa Banjar sama dan sangat mirip dengan bahasa Indonesia dan Karakteristik kalimatnya sama dengan bahasa Melayu seperti penggunaan partikel lah dan kah. Menurut sejarahnya bahasa Banjar berasal dari bahasa Melayu yang dibawa orang-orang/pedagang Melayu dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, dan akhirnya ke Kalimantan Selatan. Sementara dialek di Pahuluan, sebutan untuk daerah Banua Enam (Tapin, HSS, HST, HSU, Balangan, Tabalong), lebih banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab terutama bentuk vokal /a,i,u/ misalnya Pa’ Sipik manandang bula ‘Pak Seffek Menendang bola’. Sebagian penutur asli Hulu Sungaian dapat merubah gaya bahasanya tetapi sebagian lagi tidak bisa merubah logatnya yang kental-manis, hal ini sangat bergantung pada sosiolinguistiknya. Dalam lingkungan formal logat daerah terasa mencengangkan, asing, dan tidak baku.
Puak-puak suku Banjar Hulu Sungai dengan dialek-dialeknya masing-masing relatif bersesuaian dengan pembagian administratif pada zaman kerajaan Banjar dan Hindia Belanda yaitu menurut Lalawangan atau distrik (Kawedanan) pada masa itu, dimana pada zaman sekarang sudah berbeda. Puak-puak suku Banjar di daerah Hulu Sungai tersebut misalnya :
Orang Kelua dari bekas Distrik Kelua di hilir Daerah Aliran Sungai Tabalong,Tabalong.
Orang Tanjung dari bekas Distrik Tabalong di hulu Daerah Aliran Sungai Tabalong, Tabalong.
Orang Balangan dari bekas Distrik Balangan (Paringin) di Daerah Aliran Sungai Balangan, Balangan.
Orang Amuntai dari bekas Distrik Amuntai di Hulu Sungai Utara.
Orang Alabio dari bekas Distrik Alabio di Hulu Sungai Utara.
Orang Alai dari bekas Distrik Batang Alai di Daerah Aliran Sungai Batang Alai, Hulu Sungai Tengah
Orang Labuan Amas dari bekas Distrik Labuan Amas di Daerah Aliran Sungai Labuan Amas Hulu Sungai Tengah
Orang Negara dari bekas Distrik Negara di tepi Sungai Negara, Hulu Sungai Selatan.
Orang Kandangan dari bekas Distrik Amandit di Daerah Aliran Sungai Amandit, Hulu Sungai Selatan
Orang Margasari dari bekas Distrik Margasari di Tapin
Orang Rantau dari bekas Distrik Benua Empat di Daerah Aliran Sungai Tapin, Tapin
dan lain-lain
Kelua, Amuntai, Alabio, Negara dan Margasari merupakan kelompok Batang Banyu, sedangkan Tanjung, Balangan, Kandangan, Rantau merupakan kelompok Pahuluan. Daerah Oloe Soengai dahulu merupakan pusat kerajaan Hindu, dimana asal mula perkembangan bahasa Melayu Banjar.
Dialek-dialek Bahasa Banjar Hulu menurut Fudiat Suryadikara (Geografi Dialek Bahasa Banjar Hulu, Depdikbud, 1984) bersesuaian dengan kecamatan-kecamatan yang berpenduduk suku Banjar yang ada di Hulu Sungai, karena orang Banjar menyebut dirinya berdasarkan asal kecamatan masing-masing. Dialek-dialek tersebut yaitu :
Muara Uya
Haruai
Tanjung
Tanta
Kelua
Banua Lawas
Amuntai Utara
Amuntai Tengah
Amuntai Selatan
Danau Panggang
Babirik
Sungai Pandan (Alabio)
Batu Mandi
Lampihong
Awayan
Paringin
Juai
Batu Benawa
Haruyan
Batang Alai Selatan
Batang Alai Utara
Barabai
Pandawan
Labuan Amas Selatan
Labuan Amas Utara
Angkinang
Kandangan
Simpur
Daha Selatan (Negara)
Daha Utara
Sungai Raya
Telaga Langsat
Padang Batung
Candi Laras Utara (Margasari Hulu)
Candi Laras Selatan (Margasari Hilir)
Tapin Selatan
Tapin Tengah
Tapin Utara
Binuang
Mengingat orang-orang Banjar yang berada di Sumatera dan Malaysia Barat mayoritas berasal dari wilayah Hulu Sungai (Banua Enam), maka bahasa Banjar yang dipakai merupakan campuran dari dialek Bahasa Banjar Hulu menurut asal usulnya di Kalimantan Selatan.
Dialek bahasa Banjar Hulu juga dapat ditemukan di kampung-kampung (handil) yang penduduknya asal Hulu Sungai seperti di Kecamatan Gambut, Aluh Aluh, Tamban yang terdapat di wilayah Banjar Kuala.
Dialek Bahasa Banjar Kuala yaitu bahasa yang dipakai di wilayah Banjar Kuala yaitu bekas Afdelling Banjarmasin terdiri atas Distrik Bakumpai dan Afdeeling Martapoera terdiri dari Distrik Martapura, Distrik Riam Kiwa, Distrik Riam Kanan, Distrik Pleihari, Distrik Maluka dan Distrik Satui. Kawasan tersebut pada masa sekarang ini meliputi Kabupaten Banjar, Barito Kuala, Tanah Laut, serta kota Banjarmasin dan Banjarbaru. Pemakaiannya meluas hingga wilayah pesisir bagian tenggara Kalimantan (bekas Afdelling Kota Baru) yaitu kabupaten Tanah Bumbu dan Kota Baru sampai ke Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Bahasa Banjar Kuala dituturkan dengan logat datar tanpa intonasi tertentu, jadi berbeda dengan bahasa Banjar Hulu dengan logat yang kental (ba-ilun). Dialek Banjar Kuala yang asli misalnya yang dituturkan di daerah Kuin, Sungai Jingah, Banua Anyar dan sebagainya di sekitar kota Banjarmasin yang merupakan daerah awal berkembangnya kesultanan Banjar. Dialek Barangas dipakai di daerah Bantam Raya (Berangas-Anjir-Tamban) yaitu kawasan di sekitar wilayah luar kota Banjarmasin (Kabupaten Barito Kuala). Bahasa Banjar yang dipakai di Kalimantan Tengah cenderung menggunakan logat Dayak, sehingga keturunan Jawa yang ada di Kalteng (Tamiang Layang), lebih menguasai bahasa Banjar berlogat Dayak (Maanyan) daripada bahasa Dayak itu sendiri yang sukar dipelajari.
Karena kedudukannya sebagai lingua franca, pemakai bahasa Melayu Banjar lebih banyak daripada jumlah suku Banjar itu sendiri. Pemakaian bahasa Melayu Banjar dalam percakapan dan pergaulan sehari-hari di daerah ini lebih dominan dibandingkan dengan bahasa Indonesia. Berbagai suku di Kalimantan Selatan dan sekitarnya berusaha menguasai bahasa Banjar, sehingga dapat pula kita jumpai bahasa Banjar yang diucapkan dengan logat Jawa atau Madura yang masih terasa kental seperti yang kita jumpai di kota Banjarmasin.
Bahasa Banjar Hulu vs Bahasa Banjar Kuala
gamat (Banjar Hulu), gémét (Banjar Kuala); artinya pelan
miring (Banjar Hulu), méréng (Banjar Kuala); artinya miring
himpat, tawak, tukun, hantup (Banjar Hulu), hamput (Banjar Kuala); artinya lempar (sambit)
arai (Banjar Hulu), himung (Banjar Kuala); artinya gembira
hagan (Banjar Hulu), gasan (Banjar Kuala); artinya untuk
tiring (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya melihat
bungas (Banjar Hulu), langkar, béngkéng (Banjar Kuala); artinya cantik
tingau (Banjar Hulu), lihat (Banjar Kuala); artinya toleh, lihat
balalah (Banjar Hulu), bakunjang (Banjar Kuala); artinya bepergian
lingir (Banjar Hulu), tuang (Banjar Kuala); artinya tuang
tuti (Banjar Hulu), tadi (Banjar Kuala); artinya tadi
ba-ugah (Banjar Hulu), ba-jauh (Banjar Kuala); artinya menjauh
macal (Banjar Hulu), nakal (Banjar Kuala); artinya nakal
balai (Banjar Hulu), langgar (Banjar Kuala); artinya surau
tutui (Banjar Hulu), catuk (Banjar Kuala); artinya memukul dengan palu
tukui (Banjar Hulu), periksa (Banjar Kuala); artinya memeriksa
padu (Banjar Hulu), dapur (Banjar Kuala); artinya ruang dapur
kau'u (Banjar Hulu), nyawa (Banjar Kuala); artinya kamu
diaku (Banjar Hulu), unda (Banjar Kuala); artinya aku
disia (Banjar Hulu), disini (Banjar Kuala); artinya disini
bat-ku, anggit-ku (Banjar Hulu), ampun-ku (Banjar Kuala); artinya punya-ku
bibit (Banjar Hulu), ambil (Banjar Kuala); artinya ambil
ba-cakut (Banjar Hulu), ba-kalahi (Banjar Kuala); artinya berkelahi
ba-cakut (Banjar Hulu), ba-ingkut (banjar Kuala); artinya berpegangan pada sesuatu benda
diang (Banjar Hulu), galuh (Banjar Kuala); artinya panggilan anak perempuan
nini laki (Banjar Hulu), kayi (Banjar Kuala); artinya kakek
utuh (Banjar Hulu), nanang (Banjar Kuala); artinya panggilan anak lelaki
uma (Banjar Hulu), mama (Banjar Kuala); artinya ibu
hingkat (Banjar Hulu), kawa (Banjar Kuala); artinya dapat, bisa
puga (Banjar Hulu), hanyar (Banjar Kuala); artinya baru
salukut (Banjar Hulu), bakar (Banjar Kuala); artinya bakar
kasalukutan, kamandahan (Banjar Hulu), kagusangan (Banjar Kuala); artinya kebakaran
tajua (Banjar Hulu), ampih (Banjar Kuala); artinya berhenti
bapandir (Banjar Hulu), bepéndér (Banjar Kuala); artinya berbicara
acil laki (Banjar Hulu), amang, paman (Banjar Kuala); artinya paman
Contoh Dialek Banjar Hulu
Hagan apa hampiyan mahadang di sia, hidin hudah hampai di rumah hampian (Dialek Kandangan?)
Sagan apa sampiyan mahadang di sini, sidin sudah sampai di rumah sampiyan. (Banjar populer)
Inta intalu sa’igi, imbah itu ambilakan buah nang warna abang awan warna ijau sa’uting dua uting. Jangan ta’ambil nang igat (Dialek Amuntai?)
Minta hintalu sabigi, limbah itu ambilakan buah nang warna habang lawan warna hijau sabuting dua buting. Jangan ta’ambil nang rigat.(Banjar populer)
Perbedaan Dialek
Dialek merupakan variasi dari suatu bahasa tertentu dan dituturkan oleh sekumpulan masyarakat bahasa tersebut. Dialek ditentukan oleh fakor geografis (dialek kawasan) dan sosial (dialek sosial). Dialek sosial seperti bahasa baku, bahasa basahan (bahasa kolokial), bahasa formal, bahasa tak formal, bahasa istana, bahasa slanga (prokem), bahasa pasar, bahasa halus, bahasa kasar dan sebagainya.
Dialek kawasan berbeda dari segi:
Sebutan
Contoh: Perkataan gimit (pelan) disebut dalam pelbagai dialek seperti gamat, gimit, gemet.
Gaya lagu bahasa
Contoh: Subdialek Kalua biasanya mempunyai sebutan yang lebih panjang daripada Subdialek Banjarmasin.
Tatabahasa
Contoh: kuriak-kuriak (dialek Banjar Kuala) dan kukuriak (dialek Banjar Hulu).
Kosa kata
Contoh: hungku (dialek Kabupaten Balangan) maksudnya agaknya.
Kata ganti diri
Contoh : kao (dialek utara Kalsel maksudnya kamu) dan unda (dialek selatan Kalsel bermaksud aku)
Penulisan Resmi
Penulisan nama tempat dari bahasa Banjar sudah disesuaikan dengan bahasa Indonesia (diindonesiakan). Penulisan yang resmi seperti Tabalong (Tabalung), Barito (Baritu), Ot Danum (Ut Danum), Tebingtinggi (Tabingtinggi), Alabio (Halabiyu’), Kelua (Kalua’), Lampihong (Lampihung), dan lain-lain. Sedangkan di wilayah suku Dayak Maanyan di Barito Timur, penulisan nama tempat yang resmi dipakai adalah yang sesuai pengucapan lidah orang Banjar bukan dalam logat Maanyan, misalnya desa Wamman menjadi desa Bamban, desa Wammulung menjadi desa Bambulung, da lain-lain.
Bahasa sastra dan wayang Banjar
Dalam penulisan karya sastra Banjar maupun dalam kesenian Wayang Kulit Banjar sejak dahulu sering digunakan secara khusus kosakata yang diserap dari bahasa Jawa, padahal kosakata tersebut tidak dipakai dalam bahasa Banjar sehari-hari, tetapi memang banyak pula kosakata yang diserap dari bahasa Jawa yang sudah lazim menjadi bahasa Banjar sehari-hari. Contoh kata-kata dalam penulisan karya sastra maupun wayang Banjar tersebut misalnya : karsa (kerso), gani (geni), danawa (denowo), ngumbi (ngombe), sadusu (sedhoso), sadulur (sedhulur) dan lain-lain.
Tingkatan Bahasa
Bahasa Banjar juga mengenal tingkatan bahasa (Jawa: unggah-ungguh), tetapi hanya untuk kata ganti orang.
unda, sorang = aku ; nyawa = kamu ---> (agak kasar)
aku, diyaku = aku ; ikam, kawu = kamu ---> (netral, sepadan)
ulun = saya ; (sam)piyan / (an)dika = anda --->(halus)
untuk kata ganti orang ke-3 (dia)
inya, iya, didia = dia --->(netral,sepadan)
sidin = beliau --->(halus)
Bilangan
asa (satu)
dua (dua)
talu (tiga)
ampat (empat)
lima (lima)
anam (enam)
pitu (tujuh)
walu (delapan)
sanga (sembilan)
sapuluh (sepuluh)
sawalas (sebelas)
pitungwalas (tujuhbelas)
salawi (duapuluh lima)
talungpuluh (tigapuluh)
anampuluh (enampuluh)
walungpuluh (delapanpuluh)
saratus (seratus)
saribu (seribu)
sajuta (sejuta)
(Bilangan angka dalam bahasa Banjar mirip bilangan dalam bahasa Jawa Kuno)
Aksara Bahasa Banjar
Penulisan bahasa Banjar pada zaman dahulu dalam aksara Arab Melayu (Jawi) misalnya;
sastera sejarah/mitos seperti Hikayat Banjar
peraturan kerajaan seperti Undang-Undang Sultan Adam 1825.
perjanjian-perjanjian antara Kerajaan Banjar dengan bangsa lain.
kitab-kitab agama Islam
karya sastera lainnya seperti syair :
Syair Brahma Syahdan karya Gusti Ali Basyah Barabai
Syair Madi Kencana karya Gusti Ali Basyah Barabai
Syair Teja Dewa karya Anang Mayur Babirik
Syair Nagawati karya Anang Mayur Babirik
Syair Ranggandis karya Anang Ismail Kandangan
Syair Siti Zubaidah karya Anang Ismail Kandangan
Syair Tajul Muluk karya Kiai Mas Dipura Martapura
Syair Intan Permainan (anonim)
Syair Nur Muhammad karya Gusti Zainal Marabahan
Syair Ibarat karya Mufti Haji Abdurrahman Siddik Al-Banjary
Syair Burung Simbangan
Syair Burung Bayan dengan Burung Karuang
Hikayat Banjar
Hikayat Banjar pernah diteliti oleh Johannes Jacobus Ras, orang Belanda kelahiran Rotterdam tahun 1926 untuk disertasi doktoralnya di Universitas Leiden. Promotornya adalah Dr. A. Teeuw.
Sepenggal kisah dalam Hikayat Banjar:
Maka dicarinya Raden Samudera itu. Dapatnya, maka dilumpatkannya arah parahu talangkasan. Maka dibarinya jala kacil satu, baras sagantang, kuantan sabuah, dapur sabuah, parang sabuting, pisau sabuting, pangayuh sabuting, bakul sabuah, sanduk sabuting, pinggan sabuah, mangkuk sabuah, baju salambar, salawar salambar, kain salambar, tikar salambar. Kata Aria Taranggana: "Raden Samudera, tuan hamba larikan dari sini karana tuan handak dibunuh hua tuan Pangeran Tumanggung. Tahu-tahu manyanyamarkan diri. Lamun tuan pagi baroleh manjala, mana orang kaya-kaya itu tuan bari, supaya itu kasih. Jangan tuan mangaku priayi, kalau tuan dibunuh orang, katahuan oleh kaum Pangeran Tumanggung. Jaka datang ka bandar Muara Bahan jangan tuan diam di situ, balalu hilir, diam pada orang manyungaian itu: atawa pada orang Sarapat, atawa pada orang Balandean, atawa pada orang Banjarmasih, atawa pada orang Kuwin. Karana itu hampir laut maka tiada pati saba ka sana kaum Pangeran Tumanggung dan Pangeran Mangkubumi, kaum Pangeran Bagalung. Jaka ada tuan dangar ia itu ka sana tuan barsambunyi, kalau tuan katahuannya. Dipadahkannya itu arah Pangeran Tumanggung lamun orang yang hampir-hampir itu malihat tuan itu, karana sagala orang yang hampir itu tahu akan tuan itu. Tuan hamba suruh lari jauh-jauh itu". Maka kata Raden Samudera: "Baiklah, aku manarimakasih sida itu. Kalau aku panjang hayat kubalas jua kasih sida itu." Maka Raden Samudera itu dihanyutkannya di parahu kacil oleh Aria Taranggana itu, sarta air waktu itu baharu bunga baah. Maka Raden Samudera itu bakayuh tarcaluk-caluk. Bahalang-halang barbujur parahu itu, karana balum tahu bakayuh. (J.J. Ras, Hikajat Bandjar: A Study in Malay Historiography)
Perbandingan Bahasa Banjar dan Bahasa Bukit
tawing (Banjar), dinding (Dayak Bukit); artinya dinding
banih (Banjar), padi (Dayak Bukit); artinya padi
anum (Banjar), muda (Dayak Bukit); artinya muda
lawang (Banjar), pintu (Dayak Bukit); artinya pintu
janar (Banjar), kunyit (Dayak Bukit); artinya kunyit
hayam (Banjar), hayam, hamanuk (Dayak Bukit); artinya ayam
aruh (Banjar Hulu), aruh (Dayak Bukit); artinya kenduri, selamatan
ganal (Banjar), ganal (Dayak Bukit); artinya besar
bukah (Banjar), bukah (Dayak Bukit); artinya lari
hual (Banjar), hual (Dayak Bukit); artinya tengkar
Bahasa Banjar di Kota Banjarmasin
Bahasa Banjar yang dituturkan di Kota Banjarmasin yang penduduknya lebih heterogen berbeda dengan di Hulu Sungai (Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Balangan, Tabalong) yang penduduknya agak homogen. Perbedaannya pada umumnya terletak pada intonasi, tekanan, tinggi-rendah suara, dan sebagian kosakata. Di Banjarmasin sendiri intonasi atau lagu bahasa terbagi tiga karakter. Pertama, bahasa Banjar di kecamatan Banjarmasin Utara, di daerah pinggiran Sungai Barito tepatnya sepanjang perkampungan Alalak penduduk asli di sana menuturkan kata, frasa, dan kalimat lebih cepat, keras dan tinggi. Sementara di kecamatan Banjarmasin Timur terutama di kelurahan Seberang Mesjid dan sekitarnya, Sungai Jingah dan seputarnya, sebagian Kampung Melayu Darat, warga masyarakat asli di sana pada umumnya bertutur agak cepat, mengalun, dan tinggi. Sedangkan para remaja di perkotaan, pada umumnya di Banjarmasin Tengah berbahasa Banjar bercampur dengan bahasa Indonesia ndan gaya penuturannya tidak seperti daerah pinggiran.
Kesinoniman Bahasa Banjar dan Bahasa Jawa
Sepintas antara Bahasa Banjar dan Jawa sangat berbeda. Dari segi kosakata tidak ada yang sama apalagi intonasinya. Karena, dialek Banjar serumpun dengan bahasa Melayu yang dipakai di Malaysia, Brunei, Thailan Selatan, sebagian Filipina, dan hampir seluruh Indonesia terutama Sumatera pada umumya, terutama Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, ilmu pengetahuan, lingua pranca, berasal dari bahasa Melayu dan diperkaya oleh hampir seluruh bahasa daerah nusantara serta dipungut dari bahasa asing. Dalam perkembangannya bahasa Jawa banyak diserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti urug (timbunan tanah), arem-arem (makanan terbuat dari ketan dan beras ditambah daging ayam), irit (hemat), kebablasan (kelewatan). Begitu pula dengan bahasa daerah lainnya turut memperkaya khazanah bahasa nasional dan terjadi pelintasan dari bahasa asing (Arab, Belanda, Inggeris, Cina, Portugis, Spanyol) sebab bahasa Indonesia sangat lentur.
Karena perbedaan derivasi antara bahasa Jawa dan Banjar tentu berbeda pula aspek semantiknya. Walau demikian diperkirakan ada ratusan kata yang sama maknanya (tetapi ada yang bergeser penuturan dan artinya). Bahasa Banjar mengambil kata serapan dari bahasa Jawa seperti banyu (bahasa Jawa Baru), diduga dahulu kata air menggunakan bahasa Melayu Lokal Kalimantan seperti ai'(Kayong) atau aing (bahasa Bukit) atau mungkin pula menggunakan bahasa Dayak (Barito isolect) yang menggunakan istilah danum. Contoh-contoh persamaan bahasa Banjar dan bahasa Jawa antara lain :
hanyar (Banjar), anyar (Jawa); artinya baru
lawas (Banjar), lawas (Jawa); artinya lama
habang (Banjar), abang (Jawa); artinya merah
hirang (Banjar), ireng (Jawa); artinya hitam
halar(Banjar), lar (Jawa); artinya sayap
halat (Banjar), lat (Jawa); artinya pisah
banyu (Banjar), banyu (Jawa); artinya air
sam(piyan) (Banjar), sampeyan(Jawa); artinya kamu (halus)
an(dika) (Banjar Hulu), andiko (Jawa); artinya kamu (halus)
picak (Banjar), picek (Jawa); artinya buta
sugih (Banjar), sugih (Jawa); artinya kaya
licak (Banjar), licek (Jawa); artinya becek
baksa (Banjar), beksan (Jawa); artinya tari
kiwa (Banjar), kiwo (Jawa); artinya kiri
rigat (Banjar), reged(Jawa); artinya kotor
kadut (Banjar), kadut (Jawa); artinya kantong uang
padaringan (Banjar), pendaringan (Jawa); artinya wadah beras
dalam (Banjar), dalem (Jawa); artinya rumah bangsawan
iwak (Banjar), iwak (Jawa); artinya ikan
awak (Banjar), awak (Jawa); artinya badan
ba-lampah (Banjar), nglampahi (Jawa); artinya bertapa
ba-isuk-an (Banjar), isuk-isuk (Jawa); artinya pagi-pagi
ulun (Banjar), ulun (Jawa); artinya aku (halus), (aku untuk Dewa, Jawa)
jukung (Banjar), jukung (Jawa); artinya sampan
kalir (Banjar), kelir (Jawa); artinya warna
tapih (Banjar), tapeh (Jawa); artinya sarung, jarik
lading (Banjar), lading (Jawa); artinya pisau
reken (Banjar), reken (Jawa); artinya hitung
kartak (Banjar), kertek (Jawa); artinya jalan raya
ilat (Banjar), ilat (Jawa); artinya lidah
gulu (Banjar), gulu (Jawa); artinya leher
kilan (Banjar), kilan (Jawa); artinya jengkal
kawai, ma-ngawai (Banjar), ngawe-awe (Jawa); artinya me-lambai
ngaran (Banjar), ngaran (Jawa); artinya nama
paranah (Banjar), pernah (Jawa); artinya...(contoh pernah nenek)
pupur (Banjar), pupur (Jawa); artinya bedak
parak (Banjar), perek (Jawa); artinya dekat
wayah (Banjar), wayah (Jawa); artinya saat
uyah (Banjar), uyah (Jawa); artinya garam
paring (Banjar), pring(Jawa); artinya bambu
gawi(Banjar), gawe (Jawa); artinya kerja
palir(Banjar), peli (Jawa); artinya zakar
lawang (Banjar), lawang (Jawa); artinya pintu
menceleng (Banjar), menteleng (Jawa); artinya melotot
kancing (Banjar), kancing (Jawa); artinya menutup pintu
apam (Banjar), apem(Jawa); artinya nama sejenis makanan
gangan (Banjar), jangan (Jawa); artinya sayuran berkuah
kaleker (Banjar), kleker (Jawa); artinya gundu, kelereng
karap (Banjar), kerep (Jawa); artinya sering, kerapkali
sarik (Banjar), serik (Jawa); artinya marah
sangit (Banjar), sengit (Jawa); artinya marah
pakan (Banjar), peken (Jawa); artinya pasar mingguan
inggih (Banjar), inggih (Jawa); artinya iya (halus)
wani (Banjar), wani (Jawa); artinya berani
wasi (Banjar), wesi (Jawa); artinya besi
waja (Banjar), wojo (Jawa); artinya baja
dugal (Banjar), ndugal (Jawa); artinya nakal
bungah (Banjar), bungah (Jawa); artinya bangga
gandak (Banjar), gendak (Jawa); artinya pacar, selingkuhan
kandal(Banjar), kandel (Jawa); artinya tebal
langgar (Banjar), langgar (Jawa); artinya surau
gawil (Banjar), jawil (Jawa); artinya colek
wahin (Banjar), wahing (Jawa); artinya bersin
panembahan (Banjar), panembahan (Jawa); artinya raja, yang disembah/dijunjung
larang (Banjar), larang (Jawa); artinya mahal
anum (Banjar), enom (Jawa); artinya muda
bangsul (Banjar), wangsul (Jawa); artinya datang, tiba
mandak (Banjar), mandeg (Jawa); artinya berhenti
marga (Banjar), mergo (Jawa); artinya sebab, karena
payu (Banjar), payu (Jawa); artinya laku
ujan (Banjar), udan (Jawa); artinya hujan
hibak (Banjar), kebak (Jawa); artinya penuh
gumbili (Banjar), gembili (Jawa); artinya ubi singkong
lamun (Banjar), lamun (Jawa); artinya kalau
tatamba (Banjar), tombo (Jawa); artinya obat
mara, ba-mara (Banjar), moro (Jawa); artinya maju, menuju muara
lawan (Banjar), lawan (Jawa); artinya dengan
maling (Banjar), maling (Jawa); artinya pencuri
jariji (Banjar), deriji (Jawa); artinya jari
takun (Banjar), takon (Jawa); artinya tanya
talu (Banjar), telu (Jawa); artinya tiga
pitu (Banjar), pitu (Jawa); artinya tujuh
walu (Banjar), walu (Jawa); artinya delapan
untal (Banjar), nguntal (Jawa); artinya makan (makan tanpa dimamah, Banjar)
pagat (Banjar), pegat (Jawa); artinya putus (putusnya tali pernikahan, Jawa)
kawo (Banjar Amuntai), kowe (Jawa), kaoh (Bawean); artinya kamu
paray(a) (Banjar), prei-i (Jawa); artinya libur, tidak jadi (Belanda?)
dampar (Banjar), dampar kencono (Jawa); artinya bangku kecil,(singasana, Jawa)
burit, buritan (Banjar), mburi (Jawa); artinya belakang, (pantat, Banjar)
pajah (Banjar), pejah (Jawa); artinya mati (mati lampu, Banjar)
tatak (Banjar), tetak (Jawa); artinya potong (khitan, Jawa)
pa-pada-an (Banjar), podo-podo (Jawa); artinya sama, sesama
candi (Banjar), candi (Jawa); artinya candi
Kata (tapa)rukui berasal dari lema rahayu atau dirgahayu ‘selamat’ menjadi rahai, taburahai, serahai, ruhui, dan akhirnya berubah tuturan menjadi rukui. Kosakata ripu ‘terlalu masak’, likit ‘menyalakan’, dan getek dalam bahasa Banjar berasal dari vokabuler Inggeris ripe ‘masak’ dan light it ‘nyalakan ini’, serta get dan take. Sementara banku, lampu, dan saku dipungut dari bahasa Perancis le banc ‘bangku’, la lampe ‘lampu’, dan le sac ‘kantongan/tas’. Sedangkan kata gesang bersinonim dengan widodo yang berarti hidup dalam bahasa Jawa jangan disalahkaprahkan dengan bahasa Banjar gisang ‘gesek’. Adapun nama Yapahut konon berasal dari perusahaan kayu Java Wood (milik Belanda) yang pernah berdiri di ujung jalan Sutoyo, dekat R.S. dr.Suharsono (TPT). Sedangkan calap ‘berair/kebanjiran’ perubahan dari celup (Banjar: culup).
Adanya perbendaharaan yang sama dan mirip tidak semena-mena terjadi dengan sendirinya tetapi amat berkelindan dengan sejarah Kerajaan Banjar. Syahdan, salah seorang raja di Bandarmasih (sebutan jaman dahulu untuk Banjarmasin) meminta bantuan bala tentara dari Mataram maka dikirimlah sepasukan tentara di bawah komandan Patih Masih. Penghargaan diberikan berupa ototorita penguasaan sebuah bandar kepada Patih Masih. Sejak itu daerah Kuin dan sekitarnya dinamakan Bandarmasih, asal kata Banjarmasin. Syahbandar Patih Masih dan serdadunya betah tinggal di Muara Kuin walaupun perang usai. Mereka menetap dan menikah dengan penduduk asli. Sejak itu bahasa Jawa melintas ke dalam bahasa Banjar.
Menurut Masinambow (2002) bahasa Banjar mempunyai unsur bahasa Melayu, Jawa, dan Kalimantan.Bahasa Jawa dan Banjar sangat berbeda baik dari aspek morfologi, fonetik, ataupun semantik. Tetapi seiring dengan perkembangan, pembangunan, komunikasi, dan akulturasi kedua dialek ini diharapkan saling mengisi dan memperkaya khazanah masing-masing. Seperti kata-kata yasinan, pengajian, jumatan, syukuran, selikuran sudah menjadi makna budaya bersama. Selain itu kesenian rakyat seperti wayang, Kuda Gepang (Jawa Jaran Goyang) dan Damarwulan adalah kesenian yang pernah dipertunjukkan baik di Jawa maupun di Kalimantan Selatan. Namun sekarang sudah jarang sekali ditemukan.
Bahasa Banjar asli tampaknya semakin tidak diacuhkan sehingga kelak dikhawatirkan kita tidak membanggakan bahasa sendiri lagi.
Makna akhiran -an
Bahasa Banjar banyak kesamaannya atau mirip dengan bahasa Indonesia. Sebab bahasa Indonesia dan Bahasa banjar sama-sama berasal dari bahasa melayu Riau. Diperkirakan ketika orang-orang Melayu eksodus ke Kalimantan Barat dan Selatan mereka berasimilasi dengan penduduk asli (Dayak) dan bahasa Melayu sangat kuat mempengaruhi daerah ini. Etnis Dayak lebih memilih hidup di pedalaman dan hulu sungai sementara pedagang Melayu tetap bermukim di muara dan kuala sehingga sejak itu bahasa Melayu Banjar hidup dan berkembang yang kemudian disebut bahasa Banjar hingga sekarang terutama di pesisir, DAS (daerah aliran sungai), perdesaan dan perkotaan.
Puluhan ribu bahkan ratusan ribu komunitas Banjar bermukim di Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, NTB, Tambilahan, Riau, Bengkulu, Malaysia. Mereka masih menggunakan bahasa Banjar berabad-abad lamanya. Bahasa Banjar terus-menerus dipergunakan misalnya di hampir seluruh bagian Kalteng dan Kaltim walaupun penduduk aslinya bukan etnis Banjar. Suku Dayak yang mendiami Pegunungan Maratus dalam kesehariannya menggunakan dialek Banjar. Tetapi tidak semua orang Banjar mampu bercakap-cakap dengan dialek Kapuas, Barito, Bakumpai.
Sutan Takdir Alisyahbana (1950) dalam Alwi dan Sugono (2002) mengakui bahwa imbuhan dalam bahasa Indonesia tergolong aspek kajian yang ruwet. Beliau berujar tidak gampang memormulasikan sistem yang memadai mengenai hal itu dan begitu juga menentukan batas makna kata yang komprehensif. Beliau mencontohkan akhiran –an pada kata kebesaran yang berarti sesuatu yang abstrak tentang besar dan suatu keadaan terlampau besar. Sementara timbangan dapat berarti alat menimbang dan hasil menimbang.
Begitu pula dalam bahasa Banjar yang berakar sama dengan bahasa Indonesia. Mengenai tata bahasa Banjar telah banyak dibahas oleh cendikiawan bahasa Banjar seperti Prof. Abdul Jebar Hapip, Prof. Djantera Kawi, dll dari Universitas Lambung Mangkurat, Si Palui Surat Kabar Banjarmasin Post, buku-buku bahasa Banjar dari seniman dan budayawan Kalsel, Drs.H.Syamsiar Seman, artikel khusus tentang bahasa dan Sastra Banjar dari Tajuddin Noor Fanie, M.Pd pada Surat Kabar Kalimantan Post atau para bahasawan/linguis yang, maaf, saya tidak dapat menyebutkannya. Alhamdulillah berkat sidin-sidin itu bahasa dan budaya banua ini tetap hidup dan langgeng.
Di sini saya ingin juga umpat membeberkan secuil tentang kaidah bahasa Banjar. Afiks ba – an, ka – an dan ma – an pada kata kerja (verba) atau kata benda (nomina) dalam tata bahasa Banjar berarti subyeknya lebih dari satu (plural) atau pelakunya bersama-sama misalnya: bajalanan (bepergian), bajukungan (naik perahu), baramian (bersenang-senang), basumbalitan (koprol bersama-sama), bakacebongan (berenang), bahinipan (berdiam/bersembunyi), bamandaman (membisu), bakunjangan (berjalan-jalan), bahunjalan (berloncat-loncatan), bajunggatan ( ? ) baampikan (bertepuk tangan), kapasaran (pergi ke pasar), kamarian (ke sini, kemaren), kalanggaran (pergi salat ke musala), magajian (mengaji), mancuntanan (mencuri), kada sing bunyian (tidak ada yang bersuara), kadada nang bahungulannya (tidak ada orang yang sanggup/mampu), batahikambingan (menyerupai tahi kambing).
Tetapi ada pula afiks ba-an, ka-an, bermakna lain, seperti berindikasi pada penyakit: baliman (penyakit kulit karena alergi), baheraan (sakit perut), bahingusan (influensa), bajarawatan (banyak jerawat).
Dalam aspek komparatif atau keadaan perihal lebih atau bertanding di sini terjadi pengulangan morfem seperti ba(ga)gonolan (yang mana yang lebih besar), ba(ha)hokonan (siapa yang lebih ingin), ba(ha)haratan (siapa yang lebih hebat/berani), ba(pa)pugaan (siapa yang lebih baru), ba(tu)tuhaan (siapa yang lebih tua/senior).
Dalam makna “saling” atau sama dengan partikel baku juga terjadi pada kaidah bahasa Banjar antara lain bacacarian (bakucari), bakukurihingan (salasing melempar senyum), bapapuntalan (bergulatan), bacakutan (berantem/saling mengumpat), ba(sa)sengkengan (sama sama siap ingin menyerang/menerkam musuh), bapanasan (bersaing dalam arti negatif), batiwawsan (salah-menyalahkan), kada barawaan (tidak bertegur-sapa).
Makna lain seperti basanjaan (waktu senja) berbeda dengan kasanjaan (terlambat hingga senja), babinian (perempuan atau ibu-ibu) tidak sama dengan balakian (sudah mempunyai suami/berkeluarga), ba(ta)tukangan (mengerjakan bangunan atau belajar memperbaiki rumah), badandaman (saling merindukan), batingkalungan (bakulempar), baantaran (even pemberian mas kawin), kada bakantuntungan (tidak tuntas atau tidak beres), batungkasbatuladan (bekerja keras).
Frasa yang menunjukkan lebih, misalnya karipuan (terlalu masak) kasungsungan (terlalu pagi), kakijilan (kegenitan). Tetapi ada hal lain yang tidak sama, misalnya kaganangan (rindu atau kangen) dan baganangan (khawatir). Idiom basiupan (menyebabkan pingsan) ba(tu)tunjulan (dorong-dorongan) mempunyai arti lain ‘ingin melepaskan perintah dengan cara meyuruh orang lain’.
Saya perihatin apabila generasi sekarang abai terhadap bahasa sendiri dan tidak memindai pentingnya sebuah bahasa dan budaya. Dikhawatirkan (mudah-mudahan tidak terjadi) bahasa Banjar asli akan menjadi kenangan semata.
Reduplikasi
Setiap bahasa memiliki karakter khusus yang unik. Bahasa Banjar atau bahasa Melayu Banjar yang sangat “berpengaruh” di Kalsel, Kalteng, Kaltim memiliki ciri reduplikasi pada kosakatanya. Para pakar bahasa dalam diakronis berpendapat bahwa bahasa banjar tergolong dalam rumpun bahasa Austronesia barat dalam gugusan kepulauan di selatan Lautan Pasifik.
Reduplikasi atau perulangan adalah proses penurunan kata dengan perulangan, baik secara utuh maupun secara sebagian. Menurut bentuknya, reduplikasi nomina dap;at dibagi menjadi empat kelompok: (1) perulangan utuh, (2) perulangan salin suara, (3) perulangan sebagian, dan (4) perulangan yang disertai pengafiksan (Alwi dkk, 2000). Pengulangan bermakna keanekaan (jaksa-jasa tinggi), kekolektifan (reruntuhan), kemiripan rupa (langit-langit), kemiripan cara (kucing-kucingan). Sementara dalam bahasa Inggeris dan Perancis tidak terdapat replikasi, terkecuali yang kebetulan sama dengan itu adalah reread (Inggeris, membaca kembali), bonbon (Perancis, permen). Dalam bahasa Jawa dikenal dengan istilah salin suara.
Bahasa Banjar terbagi menjadi kelompok bahasa Banjar Nonpahuluan yang pada umumnya ada di Banjarmasin, Banjarbaru, kabupaten Banjar, sebagian Tanah Laut, sebagian Kotabaru dan Tanah Bumbu bahasa Banjarnya bervariasi, kelompok bahasa Banjar Hulu atau Pahuluan atau Banua Lima pada umumnya menggunakan tiga hurup hidup saja (a, i, dan u) disertai pitch yang kentara, cepat, dan pendek-pendek, bahasa Banjar Marabahan dipengaruhi dari intonasi Dayak, dan Banjar Kuala pada umumya lambat, mengalun, meliuk-liuk, dan rendah. Kosakata di tiga domain ini mirip mirip saja namun intonasinya berbeda. Orang-orang Banjar Hulu Sungai kayaknya lebih suka mengulang suku kata dan kata-kata dalam berbicara. Ini dimaksudkan untuk memantapkan pembicaraannya. Hampir seluruh jenis kata diulang penyebutannya baik yang tergolong kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), kata keterangan (adverbia). Dalam bentuk nomina kita mengnal kata kuda-kuda, siku-siku, untuk untuk (sejenis kue), onde-onde (sejenis kue), pahat-phat (hewan kecil di sungai), kakatupi (burung hantu), kababitak (laba-laba), unggut-unggut angui (bonglon) julung-julung (ikan darat), papuyu (sejenis ikan). Dalam bentuk verba adalah jalan-jalan, dalam bentuk adjektiva seperti kasasipuan (malu) Bentuk adverbia bahihinipan. Nama-nama kampung, dan kecamatan juga diulang misalnya Bati Bati, Asam Asam, Kait Kait, Buas Buas. Kenyataannya banyak kata yang bisa diredupklikasikan dalam bahasa Banjar. Semua orang Banjar bisa bereduplikasi-ria kalau berbicara. Kita ini kalau berbicara suka mengulang-ulangi suku kata seperti menyebut kelalatu atau kalalatu ‘sisa pembakaran hutan’, babongko atau babungku, kakoleh atau kakulih, kararaban, kelalapon atau kalalapun, gagicak, gegodoh atau gaguduh, gegati atau gagati, papundut, pepaken atau papakin pepudak atau papudak adalah semua jenis kue tradisional tapi tidak bisa lelupis, lelamang, tetapai. Yang ada tetapaian.
Beberapa reduplikasi dapat kita pindai pada banjaran lema berikut: bini, babinian, bibinian ‘perempuan, isteri’, laki, lalakian ‘lelaki’, tuha, tutuha, tatuha ‘tokoh masyarakat, Ayam, aayaman nama burung
Kulibi bakukulibian saling mencibir
Gawai gagawaian tidak serius
Langit lalangitan pelafon
Piring papiringan sebagai piring
Tabib tatabipan seperti tabib
Tambai tatambaian awal
Ulu bauuluan saling mengejek
Anak kakanakan anak-anak
Enca,inca eencaan,iincaan tidak sebenarnya
Ingat iingatan rasa ingat
Kawal kakawalan teman-teman
Sambat sasambatan menjadi sebutan orang
Jabuk manjajabuki menyebabkan lapuk
Dara dadaraan remaja
Suluh basasuluh menerangi
Sumap sasumapan kue yang dimasak di atas air mendidih
Elang, ilang baeelangan, Saling mengunjungi
Gemet,gimit bagegemetan pelan-pelan
Rusak bararusak menghancurkan
Culup bacaculup mencelup
Rami bararamian bersenang-senang
Padah papadahan pemberian nasihat
Garing gagaringan kurang enak badan
Lacuk lalacukan seperti waria, feminis
Dengar tatangar seperti mendengar, deja ecouté
Begitu gampangnya banyak kata yang direduplikasikan mencerminkan–lama kelamaan–bahasa itu monoton, membosankan, banal, dan kurang cendikia. Kembangkanlah bahasa itu menjadi eksperimen kosakata baru melalui media tulis dengar, pandan-dengar, dan tradisional. Kita sudah selanjung mempunyai munsyi bahasa daerah baik dari perguruan tinggi negeri, swasta, dan tatuha masyarakat. Biarkanlah bahasa banua berkembang dan berkirab di skala nasional.
Semua adjektiva dan hampir seluruh numerika dapat direduplikasikan, misalnya gonol ‘besar’ menjadi gonol-gonol (menunjukkan jamak) dan kagogonolan ‘kebesaran’, hancur ‘hancur’ menjadi bahahancur ‘pekerjaan menghancur dan mahancur-hancur ‘banyak yang dihancur’. Seratus menjadi bararatus dan baratus-ratus. Tengah hari menjadi batatangahharian ‘selama setengah hari’. Akan tetapi kalau kata mahahar ‘meraba’ direduplikasikan juga akan terdengar lucu dan sulit menuturkannya, yaitu mahahahahar ‘meraba-raba’. Reduplikas adalah termasuk ciri bahasa orang bahari (dahulu), dan tidak atau jarang dilakukan oleh remaja atau generasi penutur bahasa Banjar sekarang. Mereka tidak suka membuat reduplikasi karena terdengar kuno dan kolot.
Kesimpulan
Bahasa Banjar adalah sebagian dari ratusan bahasa daerah yang dimiliki bangsa Indonesia. Peran bahasa banjar dalam menyumbang bahasa Nasional belum maksimal. Namun bahasa Banjar merupakan lingua franca di Kalimantan umumnya. Bahasa Banjar tidak kaya deengan kosakata tetapi memiliki beragam langgam bahasa.
Bahasa Banjar banyak memiliki ciri-ciri khusus akan tetapi yang diuraikan di sini masih jauh dari kesempurnaan.
Bagi Anda yang ingin mengenal lebih dekat Bahasa Banjar, kami menyediakan sebuah ebook Kamus Bahasa Banjar. Silahkan lihat atau download di link berikut ini:
- KAMUS BAHASA BANJAR
- DOWNLOAD KAMUS BAHASA BANJAR |