TAHUN BARU IMLEK 2010 versus TAHUN MACAN 2010
Tahun Baru Imlek 2561, atau yang biasa disebut Tahun Baru Cina tahun ini jatuh pada tanggal 14 Februari 2010, bertepatan dengan hari Valentine dan tahun Macan (shio). Serba warna merah menjadi ciri khas Tahun Baru ini. Hari raya ini merupakan hari pertama dalam bulan pertama dari sistem kalender yang dipakai oleh orang Tionghoa. Imlek merupakan hari dimana seluruh warga Tionghoa diseantero dunia menyambut pergantian tahun berdasarkan penanggalan sistem lunar (Yin li), yaitu gabungan dari sistem kalender bulan dan kalender matahari. Di Tahun Baru Imlek ini juga diadakan Festival Musim Semi (Chun jie).
Perayaan Imlek di Indonesia baru berlangsung semarak dan dilakukan secara terbuka pasca reformasi 1998 silam. Imlek dapat dirayakan karena reformasi dan Presiden KH Abdurrahman Wahid menerbitkan Kepres No 6 Tahun 2000 yang intinya mencabut Inpres No 14 Tahun 1967 yang menghimbau kegiatan seni budaya, adat istiadat, aksara China di Indonesia diselenggarakan secara kekeluargaan dan di tempat ibadah.
Inpres No 14/1967 dampaknya sangat besar, karena aparat birokrat menafsirkannya sebagai larangan. Contohnya, seni budaya Barongsai dan Liong (naga) dilarang dipertontonkan kepada masyarakat. Kenyataannya, seni budaya Barongsai maupun Liong bukan hanya kepunyaan masyarakat Tionghoa, tetapi digemari semua elemen bangsa.
Makna Imlek di tahun Macan kali ini masih sama seperti tahun tahun sebelumnya. Intimya, kita berdo’a memohon kepada Sang Maha Kuasa untuk diberikan keselamatan dan Rizki yang lebih baik dibanding tahun lalu.
Imlek atau Sin Tjia adalah sebuah perayaan yang dilakukan oleh para petani di Cina yang biasanya jatuh pada tanggal satu di bulan pertama di awal tahun baru.
Perayaan ini juga berkaitan dengan pesta para petani untuk menyambut musim semi. Perayaan ini dimulai pada tanggal 30 bulan ke-12 dan berakhir pada tanggal 15 bulan pertama. Acaranya meliputi sembahyang Imlek, sembahyang kepada Sang Pencipta, dan perayaan Cap Go Meh.
Tujuan dari persembahyangan ini adalah sebagai wujud syukur dan doa harapan agar di tahun mendatang mendapat rezeki lebih banyak, untuk menjamu leluhur, dan sebagai sarana silaturahmi dengan kerabat dan tetangga.
Pada setiap perayaan Imlek, kita memohon do’a agar kehidupan tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Baik itu rezeki, keselamatan dan hal lainnya.
Mitos dan Ritual Imlek
Asal muasal peringatan Tahun Baru Imlek ini pun mempunyai kisah tersendiri. Konon pada dahulu kala pada tepat setiap musim semi tiba di akhir musim dingin masyarakat sering diganggu binatang buas yang bernama Nian. Binatang buas ini datang dari dasar lautan untuk memakan manusia. Masyarakat mengetahui bahwa Nian ini takut akan bunyi yang keras. Karena itu untuk mencegahnya datang, mereka memukul beduk, gong dan membakar bambu yang akan menimbulkan suara ledakan (terakhir ini telah diganti dengan petasan, setelah diketemukannya mesiu pada dinasti Sung). Mulai saat itu setiap akhir musim dingin, masyarakat merayakan tahun baru imlek dengan membakar petasan dan memainkan barongsai untuk mengusir segala yang jahat dan menyambut datangnya musim semi.
Imlek secara tradisi telah diperingati oleh masyarakat Tionghoa seluruh dunia sejak ribuan tahun lalu. Dari buku kuno diketahui Imlek dirayakan di Tiongkok 4699 tahun yang lalu oleh raja pertama Huang Ti atau Kaisar Kuning yang memerintah (2698-2598 SM). Beliau disamping seorang Raja Agung, juga seorang Nabi dan sekarang disebut Bapak Ilmu Pengetahuan. Karena pada jamannya paling banyak menciptakan penemuan-penemuan baru dan peradaban dunia dimulai pada jaman itu. Sistem penanggalan karya Huang Ti ini, kemudian diterapkan oleh pendiri Dinasti Xia (2205-2197 SM) dengan Kaisar bernama Da Yu, yang juga merupakan salah satu Nabi dalam agama Khonghucu. Namun ketika Dinas Xia jatuh diganti Dinasti Shang (1766-1122 SM), Dinasti Shang penanggalannya diganti dengan sistem penanggalan Shang.
Ketika Dinasti Shang runtuh dan diganti oleh Dinasti Zhou (1122-475 SM) sistem penanggalan juga diganti dengan sistem penanggalan Zhou. Sejak Dinasti Zhou jatuh, terjadilah jaman perang berlangsung sekitar 254 tahun. Setelah itu baru mulailah berdiri Dinasti Qin (221-207 SM) dengan Kaisar bernama Qin Shi Huang dan sistem penanggalannya dirubah lagi. Jadi boleh dikatakan di daratan Tiongkok pernah memakai 4 macam sistem penanggalan dari jaman Dinasti Xia sampai dengan Dinasti Qin.
Nabi Khonghucu yang hidup pada tahun (551-479 SM), hidup pada masa Dinasti Zhou (1122-475 SM). Waktu itu Nabi melihat masyarakat mayoritas hidup dari pertanian, maka sistem penanggalan Dinasti Xia-lah yang paling baik dan cocok. Karena awal tahun barunya jatuh pada awal musim semi, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman dalam pertanian.
Saat itu Nabi Khonghucu menyarankan agar negara kembali menggunakan kalender Dinasti Xia, namun nasihat bijak itu tidak digubris pemerintahan waktu itu. Maka Nabi bersabda dalam Sabda Suci XV : 11 berbunyi. “Pakailah penanggalan Dinasti Xia”. Dan sabda tersebut disosialisasikan oleh para murid-muridnya.
Setelah runtuhnya Dinasti Qin, berdirilah Dinasti Han (206 SM- 220 M) oleh Kaisar Han Wu Di (140-86 SM), tepatnya tahun 104 SM, sistem penanggalan Xia diresmikan sebagai penanggalan Negara dan tetap digunakan hingga saat ini.
Untuk menghormati Nabi Khonghucu, penentuan perhitungan tahun pertamanya dihitung sejak tahun kelahiran Nabi Khonghucu dan Agama Khonghucu ditetapkan sebagai agama Negara (state religion) Cina.
Tetapi pada kenyataanya, sistem penanggalan Imlek ini tidak hanya digunakan di Cina, namun merambah ke negara-negara lainnya. Dalam kehidupan keagamaan di antara umatnya di Jepang, Korea, Vietnm, Taiwan, Burma, dan negara lainnya meskipun dengan nama yang diucapkan berbeda, tetapi merayakan hari tahun barunya sama.
Bahkan di lingkungan agama Budha Sekte Mahayana yang berkembang di kawasan Asia Timur juga menggunakan penanggalan Imlek guna menentukan hari-hari suci keagamaannya.
Berbeda dengan semua itu, bagi penganut Budha Maitreya, peringatan tahun baru Imlek dirayakan bukan hanya sekedar perayaan tahun baru biasa, hari itu merupakan hari kelahiran suci Budha Maitreya. Sehingga perayaannya digabungkan antara perayaan tahun baru dan kelahiran Budha Maitreya.
Perayaan imlek bukan sekedar perayaan yang mengikuti tradisi belaka, melainkan dirayakan dengan penuh semangat dengan memegang teguh empat sikap.
Sikap pertama adalah, merayakan dengan suka cita dan berpandangan jauh ke depan, tidak hanya berpikiran sesaat tanpa mempertimbangkan hari esok yang akan dilalui.
Sikap kedua, dirayakan sesuai dengan kemampuan perekonomian keluarga, dan tidak melakukan dengan kemewahan-kemewahan yang hanya akan menimbulkan berbagai masalah dikemudian hari. Sikap ketiga adalah menghormati makhluk hidup (hewan) dengan tidak menyakitinya dihari kelahiran Budha Maitreya.
Kelahiran Maitreya adalah untuk kebahagiaan bagi seluruh makhluk hidup, pesan Maitreya adalah makhluk hidup itu tidak ada yang tersakiti dihari kelahirannya, jadi rayakan dengan tanpa menyakiti makhluk hidup itu, dengan cara menikmati jamuan vegetarian. Sikap terakhir yang harus dilakukan adalah bhakti puja dengan cara memuja para dewa dengan sesajian yang vegetarian.
Harapan Maitreya adalah semua makhluk berbahagia ditahun kelahirannya, maka makanlah makanan yang vegetarian, dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini, vegetarian tidak hanya memakan sayur dan buah-buahan, melainkan sayur dan buah-buahan itu telah diolah dengan resep-resep yang sederhana dan enak di makan.
Secara tradisi penyambutan Imlek diisi dengan aktivitas menjadi baru mulai dari mendandani rumah dan dirinya sendiri dengan pakaian dan semangat baru. Yik Nien Fuk Se, Wan Siang Keng Sin artinya datangnya tahun baru mengubah segalanya menjadi baru. Warga Tionghoa kini menghabiskan hari-harinya mempersiapkan Imlek dengan membuat aneka macam kue keranjang atau kue tar, membersihkan rumah dan tempat ibadah serta menyiapkan angpao. Sementara yang laki-laki akan membersihkan pekarangan atau mencat rumah.
Segala rangkaian prosesi perayaan Tahun Baru Imlek ini dimulai dengan suatu ritual yang dinamakan Cap Ji Gwee Jie Shie (tanggal 24 bulan ke-12 Imlek), ditandai dengan penyalaan puluhan hio (dupa bergagang) berketinggian tiga meter di klenteng-klenteng. Bagi yang tidak mampu membeli itu, pelaksanaan sembahyang cukup dengan hio biasa, lilin kecil, minyak nabati, serta sesaji buah-buahan, kue serba manis, dan pembakaran hu (kertas merang bergambar kuda terbang).
Ritual ini juga sering disebut dengan Shang Sheng. Shang Sheng merupakan salah satu dari rangkaian ritual keagamaan pemeluk agama Khong Hu Cu, meski kemeriahannya tak semencolok pada Malam Tahun Baru Imlek, dan Cap Go Meh atau hari ke-15 Tahun Baru Imlek.
Rangkaian kegiatan menyambut tahun baru Imlek dimulai dengan sembahyang syukuran tutup tahun imlek 2561 atau Sam Sip Pu mulai dari pagi hingga malam hari. Acara persembahyangan Tahun Baru sendiri, dimulai menjelang tengah malam hingga besok paginya.
Biasanya pada malam sebelum tahun baru atau Chu Si Ye, seluruh anggota keluarga harus kumpul bersama dan makan Thuan Yen Fan (makan malam sekeluarga). Jika ada keluarga yang tidak sempat atau berhalangan untuk pulang ke rumah, di meja akan disiapkan mangkok dan sepasang sumpit yang mewakili yang tidak sempat datang tadi.
Sayur yang disajikan cukup banyak dan mengandung arti tersendiri, seperti Kiau Choi yang melambangkan panjang umur, ayam rebus yang disajikan utuh melambangkan kemakmuran untuk keluarga. Sedangkan bakso ikan, bakso udang dan bakso daging melambangkan San Yuan atau tiga jabatan yaitu Cuang Yuen, Hue Yuen dan Cie Yuen. Tiga jabatan tersebut adalah jabatan yang sangat dihormati masyarakat Tionghoa pada jaman kekaisaran dahulu.
Juga ada Kiau Se atau pangsit yang bentuknya dibuat mirip dengan uang perak zaman dulu. Menurut kepercayaan, makan Kiau Se akan mendatangkan rejeki. Malahan sesuai tradisi di antara pangsit tersebut salah satunya akan diisi dengan koin. Bagi yang mendapatkan koin tersebut konon akan mendapatkan rejeki besar. Di meja juga disiapkan ikan yang dihias dan akan dimakan. Maknanya yaitu Nien nien yeu yi atau setiap tahun ada lebihnya. Ikan dingkis bertelur yang dikukus merupakan hidangan istimewa sebab diyakini dapat membawa keberuntungan di tahun baru.
Selain sajian-sajian itu yang menjadi tradisi di warga Tionghoa dalam menyambut Imlek adalah dengan menggunakan pakaian tidur berikut pakaian dalam yang masih baru. Maksudnya adalah untuk membuang kesialan tahun lalu. Pada malam tahun baru setelah berdoa dan makan malam, tidur dengan menggunakan pakaian tidur yang baru umumnya berwarna merah.
Pada hari pertama Sin Nien atau tahun baru, pertama yang akan dilakukan adalah sembahyang pada leluhur bagi yang ada altar di rumah. Bagi yang tidak punya altar, akan ke klenteng terdekat untuk sembahyang mengucapkan terima kasih atas lindungan Thien (Tuhan) sepanjang tahun. Setelah itu memberikan hormat kepada kedua orang tuanya, saling mengunjungi sanak keluarga dan kerabat dekat.
Selain itu bagi anak-anak muda mereka akan menyambut tahun baru dengan memasang petasan dan main barongsai yang mengandung arti mengusir segala yang jahat dan menyambut segala yang baik. Banyak pantangan yang tidak dilakukan pada hari tersebut. Seperti tidak menyapu dan tidak membuang sampah yang katanya akan mengusir rejeki keluar rumah. Pantangan lainnya yaitu tidak boleh bertengkar atau mengeluarkan kata-kata fitnah dan tidak boleh memecahkan piring. Namun jika kebetulan secara tidak sengaja ada piring atau mangkok yang pecah, untuk penangkalnya harus cepat-cepat mengucapkan Sue sue Phing an yang artinya setiap tahun tetap selamat.
Pada hari kedua tahun baru adalah saatnya hue niang cia atau pulang ke rumah ibu. Hari ini bagi wanita yang sudah menikah akan pulang ke rumah ibunya dengan membawa Teng Lu yang merupakan bingkisan atau angpao (kantong merah kecil yang berisi uang) untuk ibu dan adik-adiknya. Secara tradisi Angpao atau Hung pau juga diberikan kepada anak-anak dan orang tua. Pada hari ketiga, mereka lebih banyak tinggal di rumah, tidak banyak melakukan perjalanan dan aktivitas.
Pada hari keempat adalah hari menyambut para dewa untuk kembali ke bumi. Konon menurut kepercayaan Dewa Dapur (Co Kun Kong) dan para dewa dari langit akan kembali ke Bumi. Pada hari kedatangan kembali para dewa-dewi itu, khususnya Dewa Dapur, akan disambut bunyi-bunyian antara lain dengan kentongan. Warga Tionghoa biasanya ke klenteng untuk Hi Fuk atau memohon kepada dewa untuk mendapatkan perlindungan dan rejeki. Sesaji yang dibawa biasanya berupa buah-buahan juga ciu cha (arak) dan teh.
Dihitung dari Shang Sheng, rangkaian persembahyangan menjelang dan sesudah Tahun Baru Imlek meliputi 21 hari. Bagi orang yang masih kental merayakannya secara lengkap, tiga pekan itu adalah saat-saat penuh makna bagi perawatan batin. Mereka berdoa, mawas diri, bersedekah, mohon pengampunan, berterima kasih kepada Thien (Tuhan), leluhur, orang tua dan orang-orang yang dituakan, dan mohon pertolongan kepada Tuhan dan para dewa agar sehat, selamat dan sejahtera di tahun yang baru.
Kebiasaan merayakan Imlek memang tidak harus dilakukan dalam pesta atau perayaan yang berlebihan. Yang paling penting adalah pergi ke Vihara, berdoa menghaturkan kasih dan persembahan ke Tuhan dan leluhur. Juga tidak lupa bersedekah. Prinsip di sini yaitu adat dijalankan, soal pesta nomor dua.
Tahun Macan
Imlek 2561 yang dilambangkan dengan shio Macan justru dikhawatirkan karena kurang membawa keberuntungan. Tahun Macan ini, pemilik Shio Macan akan banyak mengalami masalah, baik dalam usaha, relasi kerja, kesehatan kurang bagus.
Selama Tahun Macan 2010 ini, warga Shio Macan harus banyak melakukan amal dan sembahyang, dan juga harus lebih aktif dalam bidang sosial, supaya ada perubahan nasib.
Ada enam shio yang harus di Poo Un. Sebab, menurut kepercayaan Tionghoa, rejeki, dan kesehatan kurang bagus. Enam shio itu yakni Shio Tikus, Macan, Naga, Kuda, Monyet dan Anjing. Karena nasib tiap tahun tidak sama. Seperti tahun 2009 bagus, seperti rejeki lancar, kalau tahun ini tidak bagus sering ada perubahan dalam usaha dan kesehatan. Jadi harus di Poo Un.
Setelah melakukan Poo Un, hendaknya orang tersebut melakukan sembahyang kepada Dewa Thai Swe supaya nasib yang akan datang bisa lebih bagus.
Langkah selanjutnya setelah sembahyang kepada Dewa Thai Swe yakni memasukkan koin dalam amplop merah sesuai umurnya. Tujuannya tidak lain supaya umur tidak cepat tua. Koin ditaruh di dalam amplop. Boleh uang koin seratus, dua ratus dan lima ratus. Kalau umur 30 tahun jumlahnya juga harus 30 koin. Supaya ya swe cieng (umur kita tidak cepat tua)
Setelah satu tahun berlalu, orang yang melakukan Poo Un harus melakukan sembahyang Pai Thai Swe untuk berterima kasih kepada Dewa Thai Swe, karena sudah melindungi dan menjaga kita selama satu tahun.
GONG XI FA CHAI, semoga kehidupan tahun ini lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. |