Obyek Wisata Yang Ada di Rantau Kabupaten TapinKabupaten Tapin dengan ibukota Rantau memiliki cukup banyak lokasi yang dapat dijadikan sebagai obyek wisata, baik itu berupa Wisata Alam, Wisata Buatan, Wisata Religius, Wisata Sejarah/Wisata Budaya, dan Wisata Adat yang cukup potensial untuk dikembangkan.
Goa Batu Hapu
Merupakan goa yang mempunyai panorama luar biasa yang mempunyai stalagnit dan stalagmit menghiasi dalam goa yang dapat menggugah kebesaran Allah SWT dalam ciptaanNya sebagai pelajaran pengetahuan alam, goa ini telah mendapatkan sentuhan perbaikan dan penataan, Pemerintah Daerah sehubungan kerusakan yang diakibatkan keserakahan oknum manusia yang hanya mengejar keuntungan ekonomi sesaat tanpa mensyukuri nikmat lainnya yang disediakan oleh alam. Goa Baramban
Goa Beramban merupakan goa terpanjang dan terbesar di Kalimantan Selatan yang terbagi menjadi tiga pecahan, yaitu Goa Kelelawar, Goa Air, dan Goa Atas. Peranginan Ratu
Suasana sunset atau matahari tenggelam sangat indah dinikmati di tengah sungai ketika senja hari. Rute Miawa-Loksado merupakan Tracking dan Panorama alam yang terletak di Kecamatan Piani, 18 km dari kota Rantau. Gunung Hambukung yang penuh dengan panorama alamnya. Terletak di Kecamatan Piani, 20 km dari kota Rantau. Gunung Lampinit yang penuh dengan panorama alamnya. Terletak di Kecamatan Bungur, 15 km dari kota Rantau.
Sirkuit Internasional Balipat
Merupakan sirkuit nomor dua terbesar di Indonesia setelah sirkuit Sentul Bogor.
Secara rutin setiap tahunnya menjadi ajang lomba balap motor tingkat nasional dan internasional. Ini merupakan hiburan dan event wisata bagi masyarakat.
Pasar Binuang, merupakan pasar tradisional yang terletak di Binuang, 30 km dari kota Rantau. Pusat Kesenian Tradisional Pandahan, merupakan pusat kerajinan dan kesenian tradisional, terdapat di Tapin Tengah, 14 km dari kota Rantau.
Makam Datu-Datu atau Ulama Makam Datu Nuraya
Banyak peziarah yang datang ke makam beliau. Tidak hanya penduduk lokal, tetapi banyak juga dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Arab Saudi, Syria, Inggris, India dan lain sebagainya. Makam Datu Suban
Dalam komplek makam tersebut terdapat makam beberapa murid utama beliau seperti Datu Karipis, Datu Diang Bulan, dan Datu Mayang Sari. Peziarah tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi tetapi banyak juga dari luar negeri seperti Malaysia, Brunei, Arab Saudi, Syria, Inggris, India dan lain sebagainya. Haulannya dilaksanakan pada bulan Syawal setiap tahun Makam Datu Sanggul
Riwayat Datu Sanggul
Semasa hidupnya, Datu Sanggul ke Tapin ( desa Muning Tatakan ) dalam rangka menuntut ilmu agama kepada Datu Suban, hal ini bukan berarti beliau belum memiliki ilmu agama, melainkan beliau sudah memiliki ilmu agama sudah cukup dan juga seorang Ulama. Dalam suatu mimpi ( ketika masih berada di Palembang ) didalam mimpinya bertemu dengan orang tua yang menasehati kalau anaknda Abdussamad mau mendapatkan ilmu sejati maka tuntutlah sekarang, dan orang itu berada didaerah Kalimantan Banjar tepatnya di kampung Muning pantai Munggu Tayuh Tiwadak Gumpa, di sana ada seorang tua (datu) yang bernama Suban (Datu Suban), atas petunjuk didalam mimpi itu Abdussamad berangkat menuju Kalimantan, yang sebelumnya mendapatkan izin dari orang tua kandung hingga sampailah beliau mendapatkan daerah yang dicari yaitu kampung Muning (Tatakan). Setibanya di kampung Muning, beliau menemui Datu Suban dan menceritakan perihal akan mimpinya tersebut, dengan lapang dada seakan mengerti akan simbol rabbaniyahtul Ilm pada hallikwal waktu itu Datu Suban pun menerima dan mengerti akan maksud kedatangannya serta disambut serta sangat diharapkan oleh Datu Suban ibarat pepatah buku bertemu dengan ruas kemudian pasak bertemu dengan tiang. Atas pengamatan dan penilaian Datu Suban terhadap Datu Sanggul bahwasanya Datu Sanggul mempunyai sikap maupun watak yang berbeda dari murid-muridnya yang lain, sehingga Datuk Sanggul diberikan amanah untuk menjaga kitab oleh Datu Suban mengenai ilmu Ma'rifattullah. Menurut catatan sejarah, aktifitas beliau sehari-hari yakni berburu rusa, katanya cara beliau berburu dengan cara menunggu ditempat yang sering dilalui oleh binatang buruan dan hasil dari berburunya didermakan ketetangga dan jiran sekitar rumah beliau. Sementara keunikannya dari pola interaksi symbolic Datuk Sanggul, melalui Kitab Barencongnya pada manaqibnya penuh syair serta puisi dan pantun. Diceritakan oleh juri kunci pemakaman Julak Antung, dimana masyarakat sekitar memanggilnya, menurutnya melalui yang tercatat dalam sejarah yakni manaqib Datu Sanggul dengan riwayat Kitab Barencong yang diberikan Datu Suban kepada Datu Sanggul secara silsilah merupakan berasal dari Datu Nuraya yang maqamnya berada dekat pertahanan Datu Dulung ketika melawan Belanda dan benteng tersebut adalah benteng Munggu Tayuh digelari dengan Datu Nuraya karena datu tersebut datang ke kampung Muning bertepatan dengan hari raya selepas Datu Suban melaksanakan sholat Ied. Setelah berkenalan dan memperlihatkan sebuah kitab kepada Datu Suban tidak lama kemudian orang tersebut ambruk dan wafat pada hari raya itu juga. Mengenai riwayat Datu Nuraya tidak ada kejelasan dari mana beliau berasal dan apa tujuan beliau berada dikampung Muning Tatakan, namun menurut kabar yang berkembang di masyarakat ada yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari Hadramaut tetapi ada pula yang mengatakan bahwa Datu Nuraya berasal dari pulau jawa, dengan gelar garandali, diceritakan garandali sebuah gelar yang luar biasa, namun ketawadhuan yang dimiliki Datu Nuraya membuat hidupnya lebih memilih merakyat, keutamaan garandali tak lain adalah seorang ulama yang selalu merakyat, halikwal dan keinginannya sudah bulat di tujukan hanya satu yakni kepada Allah SWT, sehingga setiap ibadah maupun di dalam memanfaatkan ilmunya,selalu merasa tak berdaya melainkan hanya dengan pertolongan Allah SWT, setiap kebaikan yang di anggapnya selalu hanya hadiah dari Allah.SWT, dengan seperti itu,menjadikan hati bahkan seluruh batang tubuhnya hanya sebagai persinggahan Allah.SWT saja dan ini tingkat ikhlash yang tertinggi ungkapnya. Datu Nuraya, seorang figur garandali yang menempuh jalan gurur, jalan gurur yang selalu di kilati akan hal dan menurut kabar jalan ini tak mudah, dan konon beliau ini, dengan kain kebesarannya atau tapih dapat mengatur alam, yang tentunya atas izin Allah.SWT, seperti menurunkan hujan, mengatur petir, dan awan serta angin yang bertiup, sehingga setiap beliau berjalan di terik matahari awan selalu menaunginya, Sementara itu juga ada kabar yang menyebutkan bahwasanya beliau bernama Syekh Gede Jangkung, hal ini dilihat dari ukuran makam beliau yang panjangnya 63 meter. Kitab yang diberikan Datu Nuraya kepada Datu Suban berisi tuntunan hidup pada kehidupan lahir dan bathin untuk kehidupan didunia maupun dikehidupan akhirat serta rahasia alam dan rahasia rubbubiyah, serta menyangkut Rabbaniyatul Ilm dan Rabbaniyatul hukum. Kembali ke Datu Sanggul bertemu dan menjalin persaudaraan dengan Datu Kelampaian, di ceritakan oleh masyarakat setempat, akan hallikhwal Datu Kelampaian Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari mengaji ke mekkah, beliau sudah melakukan ikatan lahir bathin dengan Datu Sanggul, yakni (beangkatan dangsanak) jika orang banjar mengartikan. Ikatan saudara ini lebih di perluas dengan saling memberikan pengetahuan satu sama lainnya, dimana keingintahuan Datu Kelampaian pada isi kitab Datu Sanggul terpenuhi, sementara pesan Datu sanggul kepada datu kelampaian yakni , kalau adinda bulik ke banua yang sarincung kitab ini kaina ambil di Kampung Muning Tatakan dengan syarat harus membawa kain putih, sebab bila kitab ini bersatu lagi salah satu diantara kita akan kembali kepada Allah.SWT. Ketika Datu Kelampaian pulang ke kampung halaman di Martapura setelah 30 tahun mengaji di Mekkah dan sempat mengajar di Masjidil Haram Mekkah pada bulan Ramadhan 1186 H atau bulan Desember 1772 M, usai Datu Kelampaian berkumpul dengan keluarga maka beliau teringat dengan Datu Sanggul sebagai saudara yang ada di kampung muning Tatakan dengan berencana akan melakukan silahturhami. Syekh Salman Al-Farisi Semasa hidupnya beliau mengajarkan agama yaitu pelajaran Sifat 20 atau pelajaran Tauhid Al-Qur'an, Hadits dan Ilmu Fiqh lainnya. Syekh Salman Al-Farisi hidup antara tahun 1857-1920 dan merupakan cicit Datu Kalampaian Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Makam ini tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari berbagai daerah di Kalimantan, Jawa,dan Sumatera bahkan dari Malaysia dan Brunei Darussalam. Haulan Syekh Salman Al-Farisi dilaksanakan setiap tanggal 9 Dzulhijjah. Masjid Banua Halat ( Masjid Al-Mukarramah)
Masjid tersebut diperkirakan didirikan pada masa Kerajaan Banjar tahun 1890 di bawah pimpinan Sultan Muda Abdurrahman. Pada tahun 1910 masjid itu dibakar penjajah Belanda, tetapi kemudian dibangun kembali dan baru selesai tahun 1914. Pada tahun 1993 masjid tua di Banua Halat itu ditetapkan sebagai cagar budaya. "Masjid Banua Halat" ternyata memiliki magnet lain yang sangat kuat sebagai daya tarik wisata. Karena bagi sebagian orang, Masjid Banua Halat sebagai tujuan wisata religius di Kabupaten Tapin sekaligus simbol ke-istimewaan masyarakat Tapin. Salah satu warga setempat menyatakan, "kurang afdhol jika berziarah ke maqam-maqam di tapin jika tak mengunjungi masjid Keramat Banua Halat", itulah kepercayaan turun temurun nenek moyang mereka tentang masjid tersebut, terlebih lagi tutus, keturunan yang masih asli banua halat terdapat disitu, karena warga desa banua halat enggan pindah dari satu daerah ke daerah lain selain itu juga terdapat fenomena seperti makhluk halus dari bangsa Jin yang kerap mengunjungi masjid Banua Halat setiap bulan Maulid dengan berbaur dengan manusia dalam perayaan baayun anak dan selalu ada saja keistimewaan setiap tahun di masjid banua halat ini.
Sebelum mencapai puncak prosesi baayun maulid, setiap kampung sekitar masjid terlebih dahulu merayakan maulid secara serempak mulai pukul 08.00. Itu sebabnya, saat menyusuri permukiman tampak hampir setiap rumah dipenuhi warga yang membaca syair-syair maulid, doa, dan makan bersama.
uasana perayaan maulid seperti itu tidak hanya tampak di Banua Halat. Warga suku Banjar yang mayoritas dari 3,2 juta penduduk Kalsel , hampir semuanya memperingati maulid. Situs Candi Laras
Menurut riwayat, situs kerajaan Candi laras yaitu kerajaan Hindu Syiwa dengan rajanya yang bernama Raden Panji Sari Kaburangan.
Secara fisik, bangunannya berupa sumur tua dan terdapat beberapa batang kayu ulin besar yang berumur ratusan tahun yang tertanam tidak jauh dari sumur tersebut. Lokasinya pun terletak di sebuah pematang yang dikelilingi persawahan warga sekitar. Selain itu, ada dua buah batu besar yang oleh warga sekitar disebut Batu Babi. Saat ini, benda sejarah tersebut disimpan di Museum Banjarbaru. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin. Pengrajin Anyaman Rotan dan Purun Margasari
Saat ini hasil kerajinannya sudah memasuki pasar ekpor ke Eropa seperti Swedia dan Kanada.
Margasari juga terkenal dengan wisata sungainya dan abad ke-14 yang lalu merupakan gerbang bandar kerajaan Negara Dipa.
Aruh Adat Bapalas Suku Dayak Bukit Piani Upacara Bapalas yang dilakukan oleh Dayak Meratus yang ada di Desa Batung, Kecamatan Piani. Ritual upacaranya sendiri digelar sebagai aruh kecil yang dilangsung selama 7 hari 7 malam berturut-turut di Balai Desa Batung yang baru saja direhab. Menurut keterangan Penghulu Adat Desa Batung, Uhil yang memimpin jalannya upacara adat ini mengatakan kalau dialah yang akan memimpin upacara adat ini. Seminggu sebelum pelaksanaan aruh ini warga Dayak yang tersebar di Kabupaten Tapin sudah diundang untuk menghadiri upacara ini. Diantara undangan yang hadir terdapat warga Dayak Harakit, Pipitak Jaya, Belawaian dan Bagandah. “Hari pertama dari rangkaian upacara ini dilaksanakannya dilakukan pembuatan kalangkang mantit dan langgatan yang akan dipergunakan dalam prosesi upacara ini. Baru pada hari kedua dimulailan prosesi upacaranya hingga hari keenam. Seadngkan hari ketujuh disebut sebagai harri pamali di mana seluruh masyarakat desa melakukan pemantang pergi ke ladang, menyalakan api, juga tidak boleh ada satu orangpun warga desa yang meninggalkan desanya pada hari tersebut. Apabila hal ini dilanggar diyakini akan timbul bencana, kematian, atau tertular suatu penyakit yang akan diderita oleh warga di desa,” ujarnya. Secara panjang lebar, Uhil menjelaskan prosesi upacara bapalas ini. Dimulai dari membuat kerangka langgatan yang akan dipergunakan sebagai persembahan kepada sang pencipta. Langgatan yang digantung di tengah-tengah arena dibuat terlebih dahulu rangkanya dari kayu. Baru pada keesokan harinya langgatan tadi diberi pakaian dari pucuk enau yang dibuat bermacam-macam hiasan untuk menutupi rangka langgatan hingga seluruh tubuhnya tertutup daun enau. Langgatan ini terdiri dari dua tingkat, lantai pertama diisi dengan bakul atau disebut tumbu yang dianyam oleh orang yang ingin mempersembahkan padinya kepada Bhatara yang di atas. Warna tumbu ini beragam, ada yang berwarna kuning atau merah. “Pada upacara kali ini ada sebanyak 38 bakul yang akan dipersembanhkan dan disusun di lantai satu langgatan,” ujarnya. Sedangkan di lantai kedua, diletakkan berbagai aneka kue khas Dayak seperti lamang, lakatan habang, hirang, putih, yang akan dipersembahkan pada orang-orang keramat. Langgatan yang dibuat, pada bagian atasnya terdiri dari panji atau kepala langgatan yang terdiri dari kain warna merah dan putih, sebagai pertanda menyembah kepada Tuhan. Kepala langgatan ini dibentuk menyilang dan mengarah ke atas sebagai tanda persembahan warga desa kepada sang pencipta. Sementara itu, di tanah atau dibagian belakang balai didirikan kalangakang mantit yang dipergunakan sebagai persembahan dan awal dimulainya upacara bapalas ini. Tidak ketinggalan di 4 tiang yang ada di ruangan balai juga dibuat kalangkang mantit. Upacara bapalas kali ini dilaksanakan oleh penghulu adat, damang dan wakil penghulu sebanyak 11 orang yang akan memimpin upacara ini. “Ada penghulu dan damang dari 5 desa yang hadir pada upacara kali ini, yakni dari Desa Harakit, Mancabung, Batung, Belawaian, dan Bagandah. Jumlahnya ada 11 orang balian yang akan memimpin upacara ini,” ujarnya. Upacara bapalas di Balai Desa Batung ini dihadiri tak kurang dari 500 orang suka Dayak Tapin yang mendiami pengunungan Meratus. Mulai dari bayi umur 20 hari hingga orang dewasa berumur 80 tahun pun datang ke desa ini untuk mengikuti upacara bapalas ini. Semakin malam semakin ramai suasana balai. Upacara bapalas Dayak Tapin dihadiri oleh tua muda sebagai ungkapan rasa syukur, juga sebagai upacara tolak bala atau buang randu, buang jahat yang diyakini mereka. Upacara dipimpin oleh Penghulu Adat dalam 5 hari aruh berlangsung. Menurut penghulu Adat, Uhil rangkaian upacara aruh Adat Tapin ini dimulai dari malam pertama membuat kalangakang mantit, yakni 11 orang balian yang dilengkapi dengan kostum memakai kain, tapih, lahung, dan gelang hiang di tangan. Kesebelas balian yang sudah berpakaian lengkap ini turun ke tanah dan berdiri di kalangkang mantit di mana penghulu membacakan mantra-mantra, setelah itu dihamburkan baras kuning sebagai tanda di mulainya upacara babalian ini. Selanjutnya, bapincuk, di mana balian semuanya naik ke dalam balai dan membuka lawang dewata dilanjutkan dengan bapanaikan. Rangkaian keenam adalah menggantung tali rimbunan yang diikat dengan rotan di langgatan. Mawagang tatak keberikutnya, yakni tali pengikat yang terbuat dari rotan dipotong oleh balian. Selama upacara berlangsung, kesebelas balian ini didampingi oleh pinjulang yang bertindak sebagai juru bicara perwakilan dari masyarakat. Pinjulang ini harus orang terdekat dari balian, bisa saja isterti balian, atau saudara maupun saudara dekatnya. Pada prosesi bakaribut kawalu, balian memutar langgatan sesuai dengan arah mata angin agar angin jahat yang akan datang ke desa ini tidak jadi datang ke kampung. “Angin jahat ini bisa membuat warga sakit, bahkan meninggal dunia. Prosesi ini diperlambangkan agar seluruh warga di kampung akan selamat semuanya. Mungkin kalau orang bilang bagian ini disebut sebagai penolak bala,” jelasnya. Sebelum upacara di hari kedua berakhir, diadakan upacara mangarungan yakni mengobati atau menambai orang sakit yang dilakukan oleh balian. Pada saat upacara berlangsung, masing-masing balian mengobati pasiennya. Ada pasien yang sakit kakinya dan ada juga yang sakit menyamak langsung diobati dengan mantra-mantra yang diyakini bisa menyembuhkan orang yang sakit. Selanjutnya dilakukan bahantu, yakni membaca mantra dalam bahasa dayak yang diyakini agar desa ini terhindar dari penyakit yang akan menimpa desa ini. Baik itu penyakit yang datang dari laut, darat, agar tidak masuk ke kampung dan dikasi wadai supaya hantu jahat tidak datang ke kampung dan mendatangkan penyakit bagi mereka. Sebeagai prosesi terakhir dari upacara balian malam kedua ini dilangsungkan ajang badangsai, di mana tua, muda, dan anak-anak turun ke tengah langgatan untuk bedangsai atau batandik, menari dengan kaki dan tangan dihentakkan ke lantai diiringi suara serunai dan babun. Untuk laki-laki, bedangsainya dilakukan sesama laki-laki dengan irama yang rancak, sedangkan untuk perempuan dengan irama yang agak lamban. Para perempuan yang turun bedangsai mengenakan sarung dan menari dengan gerakan lemah gemulai. Semakin malam beranjak turun, semakin ramai orang yang turun bedangsai. Bedangsai ini usai ketika ayam berkokok dan seluruh warga pun serentak berhenti dan kembali ke rumah masing-masing. Namun yang rumahnya jauh, memilih tidur di balai yang memiliki kamar yang banyak.
ARTIKEL TERKAIT : Obyek Wisata Banjarmasin |